PENGEMBANGAN LAHAN PERTANIAN PASANG SURUT
PENGEMBANGAN
LAHAN PERTANIAN PASANG SURUT
OLEH
:
EKO PRIYADI
1404300146

AGRIBISNIS
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SUMATERA UTARA
2016
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat
dan salam semoga Allah sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, semoga kita semua
senantiasa istiqomah menjalankan sunnahnya.
Makalah
ini disusun sebagai bahan dalam acara PKPP Bina Desa Popmasepi di Universitas
Mulawarman. Yang berisikan mengenai pengembangan dan pemanfaatan Lahan Rawa
pasang surut.
Ucapan terima kasih kepada
rekan-rekan penulis yang telah ikut serta berperan dalam penyusunan makalah
ini.
Penulis
menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan
kedepannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
Terima kasih.
Medan, 29 Agustus 2016
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk
peningkatan produkivitas tanaman pangan khususnya tanaman padi. Beras sebagai
salah satu sumber pangan utama penduduk Indonesia dan kebutuhannya terus
meningkat karena selain penduduk terus bertambah dengan laju peningkatan
sekitar 2% per tahun, juga adanya perubahan pola konsumsi penduduk dari non
beras ke beras. Disamping itu terjadinya penciutan lahan sawah irigasi akibat
konversi lahan untuk kepentingan non pertanian dan munculnya penomena degradasi
kesuburan lahan menyebabkan produktivitas padi sawah irigasi cenderung melandai
(Deptan, 2008). Berkaitan dengan perkiraan terjadinya penurunan produksi
tersebut maka perlu diupayakan penanggulanggannya melalui peningkatan
intensitas pertanaman dan produktivitas lahan sawah yang ada, pencetakan lahan
irigasi baru dan pengembangan lahan potensial lainnya termasuk lahan marginal
seperti lahan rawa pasang surut.
Lahan rawa pasang surut merupakan
lahan marginal yang memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan pertanian
khususnya untuk pengembangan tanaman pangan. Luas lahan ini di Indonesia
diperkirakan mencapai 20,11 juta hektar, sekitar 9,53 juta hektar diantaranya
berpotensi sebagai areal pertanian, sudah direklamasi sekitar 4,186 juta hektar
sehingga diperkirakan masih tersedia 5,344 juta hektar yang bisa dimanfaatkan
menjadi areal pertanian, sedangkan dari 4.186 juta ha yang telah direklamasi
juga belum dimanfaatkan secara maksimal.
Sebagai lahan marginal, memanfaatkan
lahan rawa pasang surut untuk usaha pertanian memang tidak semudah memanfaatkan
lahan-lahan subur yang selama ini banyak dimnfaatkan untuk usaha pertanian
seperi lahan irigasi dan lainnya. Salah satu dai ciri kemarginalan lahan ini
adalah tingkat kemasaman tanah yang tinggi (pH < 4), kandungan besi (Fe2+)
cukup tinggi dan lapisan pirit yang dangkal. Oleh karenanya dalam mengelola
lahan ini menjadi lahan pertanian terlebih dahulu harus ketahui sifat dan
karakteristiknya yang khas tersebut. Jika salah kelola akan berakibat fatal dan
memerlukan biaya dan waktu yang lama untuk memperbaikinya.
B. Tujuan
Adapun tujuan
penyusunan makalah ini adalah untuk mempelajari tata kelola pengembangan
pertanian pasang Surut.
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Lahan
Pasang Surut
Lahan rawa adalah lahan yang tergenang secara terus
menerus akibat drainase buruk. Lahan rawa di bagi menjadi dua yaitu rawa lebak
dan rawa pasang surut. Lahan rawa pasang surut merupakan lahan yang dipengaruhi
oleh pasang surut air laut.
Lahan pasang surut merupakan suatu lahan yang terletak pada
zone/wilayah sekitar pantai yang ditandai dengan adanya pengaruh langsung
limpasan air dari pasang surutnya air laut atau pun hanya berpengaruh pada muka
air tanah. Sebagian besar jenis tanah pada lahan rawa pasang surut terdiri dari
tanah gambut dan tanah sulfat masam.
Lahan rawa pasang surut jika dikembangkan secara optimal
dengan meningkatkan fungsi dan manfaatnya maka bisa menjadi lahan yang
potensial untuk dijadikan lahan pertanian di masa depan. Untuk mencapai tujuan
pengembangan lahan pasang surut secara optimal, ada beberapa kendala. Kendala
tersebut berupa faktor biofisik, hidrologi yang menyangkut tata air, agronomi,
sosial dan ekonomi
Kemudian tanah pasang surut biasanya
dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan terutama untuk lahan persawahan. Luas
lahan pasang surut yang dapat dimanfaatkan berfluktuasi antara musim kemarau
dan penghujan. Pemanfaatan lahan pasang surut telah menjadi sumber mata
pencaharian penting bagi masyarakat disekitarnya meskipun belum dapat
menggunakannya sepanjang tahun. Rata - rata lahan pasang surut hanya dapat
ditanami sekali dalam setahunnya selebihnya dibiarkan dalam keadaan bero karena
tergenang air. Tergenangnya lahan pasang surut secara periodik ada kaitannya
dengan kepentingan pembangkit tenaga listrik dan meluapnya air pada musim
penghujan.
B.
Potensi
Lahan rawa pasang surut memiliki
potensi yang besar dan prospek pengembangan yang baik, serta merupakan salah
satu pilihan strategis sebagai areal produksi pertanian guna mendukung
ketahanan pangan nasional. Reklamasi atau pengembangan lahan rawa pasang surut
untuk pertanian telah dilakukan pemerintah sejak tahun 1970-an. Pada awal
reklamasi, sistem jaringan tata air yang dibangun masih merupakan sistem
jaringan terbuka dengan fungsi utama untuk drainase. Pengaturan tata air
sepenuhnya masih bergantung pada kondisi alam, sehingga kemampuan pelayanan
tata air masih sangat rendah. Pada sistem jaringan terbuka, tipe luapan air
pasang menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem usahatani. Dengan
dibangunnya infrastruktur pengendali air (pintu air), maka beberapa pokok
persoalan teknis mulai dapat dipecahkan, namun dalam pelaksanaannya masih
terhambat oleh kondisi yang beragam di lapangan.
Berbagai pemikiran dan penelitian
terus dilakukan dalam upaya peningkatan produksi pertanian dan indeks
pertanaman (IP). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan air
merupakan kunci keberhasilan dalam pengembangan pertanian lahan rawa pasang
surut. Pengelolaan air dapat mengendalikan kondisi muka air tanah di petak
lahan yang fluktuatif. Namun demikian, pengelolaan air masih terkendala oleh
kondisi infiastruktur pengendali air yang belum memadai. Sebagian besar
jaringan tata air di daerah reklamasi rawa pasang surut masih belum dilengkapi
dengan infrastruktur pengendali air yang memadai. Tanpa pintu air, terutarna di
saluran tersier, maka pengendalian muka air tanah di petak lahan akan sulit
dilakukan. Selain itu, teknik yang diterapkan juga masih bergantung pada
pengamatan muka air tanah secara langsung di lapangan, yaitu dengan membuat
sumur-sumur pengamatan. Meskipun memiliki akurasi yang tinggi, namun pengamatan
secara langsung memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Informasi yang
diperoleh juga terbatas pada titik pengamatan dan jangka waktu pengamatan
tertentu. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu model penduga muka air tanah,
sehingga kondisi muka air tanah di petak lahan dapat diketahui secara cepat
melalui parameterparameter model sebagai prediktor.
Pada pertanian lahan rawa pasang surut, tanaman akan tumbuh
dan berkembang dengan baik apabila kedalaman muka air tanah dapat diatur sesuai
dengan zona perakaran tanaman, dan pirit yang ada di dalam tanah tidak
teroksidasi. Penman muka air tanah hingga di bawah lapisan tanah yang
mengandung pirit akan menyebabkan terjadinya oksidasi pirit yang menghasilkan
senyawa sulfat. Asam sulfat bersifat racun, sehingga dapat mengganggu
pertumbuhan tanaman. Oksidasi pirit dapat dikendalikan dengan menekan kandungan
oksigen yang tersedia di dalam tanah, yaitu dengan mengatur kedalaman muka air
tanah.
Untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa pasang surut,
pengelolaan air memegang peranan sangat penting. Pengelolaan air dilakukan
dengan memperhatikan kedalaman gambut, tingkat pelapukan gambut, lapisan bawah
gambut (substratum), ada tidaknya bahan pengkayaan, dan tipe luapan
pasang surut. Untuk menanggulangi, mengurangi, dan menghilangkan kemasaman
serta untuk meningkatkan hasil komoditas yang dibudidayakan di lahan sulfat
masam, pengelolaan air didasarkan pada tipologi lahan pasang surut dan tipe
luapan. Tipologi lahan sulfat masam potensial dengan tipe luapan A, tipologi
lahan sulfat masam aktual dengan tipe luapan B, C, D
Berdasarkan kemampuan arus pasang mencapai daratan, maka tipe
luapan pada lahan rawa pasang surut dibedakan menjadi 4 macam tipe luapan yaitu
:
Tipe
A : Lahan yang selalu terluapi air pasang, baik pada saat pasang maksimum
(spring tide) maupun pasang minimum (neap tide).
Tipe
B : Lahan yang terluapi air pasang pada saat pasang besar.
Tipe
C : Lahan yang tidak pernah terluapi air pasang, tetapi air pasang berpengaruh
pada air tanah dan kedalaman muka air tanah kurang dari 50
cm.
Tipe
D : Lahan yang tidak pernah terluapi air pasang, tetapi air pasang berpengaruh
pada air tanah dan kedalaman muka air tanah lebih dari 50
cm.
Klasifikasi tipe luapan ini didasarkan pada pasang maksimum
dan minimum pada saat musim hujan .Untuk musim kemarau,kemampuan arus pasang
mencapai daratan berkurang, sehingga perlu perancangan teknik pengelolaan air
harus disesuaikan.
Pemanfaatan lahan pasangan surut terutama tipe A dan tipe B
yaitu sistem persawahan karena sistem ini paling tepat dan aman terutama
terhadap kendala yang ditimbulkan akibat sifat fisik dan kimia tanah. Sistem
sawah akan membuat tanah tetap dalam keadaan reduksi dan pada keadaan ini pirit
tetap stabil di dalam tanah sehingga tidak membahayakan bagi tanaman padi
Berhubungan dengan sistem ini maka pemilihan varietas yang sesuai, pengelolaan
air dan pemanfaatan vegetasi alami merupakan kunci utama dalam memperoleh hasil
yang optimal.
BAB
III
PEMBAHASAN
Pengembangan
Lahan Pasang Surut
Ada 4 kunci sukses pengelolaan lahan
rawa yang selain dapat meningkatkan produktivitasnya juga dapat melestarikan
kesuburan tanah sehingga pertanian berkelajutan (sustainable agricultural)
dapat dicapai. Adapun keempat kunci sukses dimaksud adalah: (1) Pengelolaan
air; (2) Penataan lahan; (3) Pemilihan Komoditas adaptif dan prospektif dan (4)
Penerapan teknologi budidaya yang sesuai.
1.
Pengelolaan Air
Kunci utama keberhasilan pemanfaatan
lahan rawa pasang surut untuk pertanian adalah pengelolaan air . Sistem
pengelolaan air yang sesuai di lahan pasang surut adalah sistem satu arah pada
lahan-lahan tipe A dan B, dan sistem konservasi pada lahan tipe C dan D. Secara
specifik pengelolaan air di lahan pasang surut bertujuan untuk : (1) Memenuhi
kebutuhan air pada penyiapan lahan, (2) Memenuhi kebutuhan air untuk
pertumbuhan tanaman, (3) Memberikan suasana kelembaban yang ideal bagi pertumbuhan
tanaman dengan mengatur tinggi muka air tanah, (4) Memperbaiki sifat
fisiko-kimia tanah dengan cara mencuci zat-zat yang bersifat meracun bagi
tanaman, (5) Mengurangi semaksimal mungkin terjadinya oksidasi pirit pada tanah
sulfat; (6) Mencegah terjadinya proses kering tak balik pada gambut, (7)
Mencegah terjadinya penurunan permukaan tanah (subsidence) terlalu cepat; dan
(8) Mencegah masuknya air asin ke petakan lahan.
Penerapan sistem tata air satu arah
pada lahan tipe luapan A dan B dapat dilakukan dengan menggunakan pintu air
otomatis pada tingkat saluran sekunder/ tersier yang berfungsi untuk memisahkan
fungsi saluran antara sekunder/tersier untuk saluran irigasi dan untuk saluran
drainase. Air masuk pada saat pasang masuk melalui saluran irigasi dengan
mendorong pintu air otomatis, sementara pintu pada saluran sekunder/tersier
drainase akan tertutup. Sebaliknya pada saat air surut, pintu air pada saluran
sekunder/tersier irigasi akan tertutup akibat dorongan air balik, sementara
pada saluran sekunder/tersier drainase arus air balik akan mendorong pintu air
menjadi terbuka sehingga air bebas keluar. Dengan demikian sirkulasi air pada
tingkat lahan pertanaman dan pencucian dapat berlangsung dengan baik
2.
Penataan Lahan
Guna mengoptimalkan pengembangan lahan
rawa pasng surut untuk usaha pertanian yang sekaligus meningkatkan
diversifikasi hasil pertanian dan pendapatan, maka perlu dilakukan penataan
lahan. Adapun tujuan penataan lahan adalah untuk : (1) mengurangi resiko
kegagalan total dalam usaha tani; (2) meningkatkan keragaman usaha tani melalui
difersifikasi tanaman; (3) meningkatkan pendapatan usaha tani melalui
difersifikasi tanaman; (4) mempertahankan kesuburan tanah. Penataan lahan di
lahan rawa pasang surut dapat dilakukan berdasarkan kepentingan dan keadaan
tipologi lahan
3.
Pemilihan Komoditas adaptif dan prospektif
Dengan penerapan sistem tata air dan
penataaan lahan yang sesuai, lahan rawa pasang surut tidak hanya dapat
diperuntukan untuk tanaman padi, namun berbagai komoditas dapat dikembangkan.
Penganekaragam komoditas dapat dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan
mengurangi resiko kegagalan usahatani. Namun demikian sebelum memilih/
menetapkan komoditas yang akan diusahakan, setidaknya ada empat pertimbangan
yang perlu diperhatikan agar komoditas yang diusahakan dapat berproduksi secara
optimal dan memiliki nialai jual yang cukup tinggi. Adapun ke empat
pertimbangan dimaksud adalah (1) agroteknis, (2) ekonomis, (3) sosial, dan (4)
pemasaran.
Aspek agroteknis adalah kesesuaian
lahan. Kesesuaian lahan harus menjadi pertimbangan utama, karena bila tidak,
maka tanaman tidak akan menghasilkan secara optimum. Pengusahaaan tanaman pada
lahan yang kurang sesuai akan memerlukan perlakuan-perlakuan dan penambahan
input tertentu yang akan menambah biaya, sehingga menyebabkan tidak kompetitif
dengan produk sejenis dari daerah lain, atau dengan komoditas saingannya.
Teknologi yang diberikan sedapat mungkin tak terlalu banyak menambah biaya,
kalaupun ada tambahan hasilnya (manfaatnya) akan lebih besar dari tambahan
biayanya. Dari pengalaman dan hasil observasi diberbagai lokasi lahan rawa
pasang surut menunjukkan bahwa beberapa komoditas pertanian yang prospektif
baik berupa tanaman pangan (padi dan palawija) maupun tanaman hortikultura
(sayur-sayuran dan buah-buahan) dapat dikembangkan dilahan rawa pasang surut.
Sedangkan pemilihan jenis dan varietasnya disesuaikan dengan preferensi
petaninya atau prospek pasarnya pada wilayah pengembangan.
Selain tanaman padi pada bagian
sawah atau tabukan, dengan sistem surjan tanaman palawija seperti jagung,
kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan umbi-umbian bisa dikembangkan pada
bagian surjan. Pada lahan dengan tipe luapan C dan D dengan penataan lahan
sistem tegalan, tanaman palawija dapat dikembangkan khususnya pada pertanaman
musim kemarau.
Tanaman hortikultura berupa sayuran
dan buah-buahan semusim dan tahunan dapat ditanam di lahan rawa pasang surut
pada penataan lahan sistem surjan. Tanaman horti buah tahunan seperti jeruk
selain pada penataan sistem surjan juga dapat ditanam pada penataaan lahan
sistem tukungan (gundukan). Tanaman sayuran yang bisa dikembangkan di lahan
rawa pasang surut adalah tomat, cabai, timun, kacang panjang, pare, terong,
buncis, kubis, lobak, bawang merah, waluh, dan aneka sayuran cabut seperti
sawi, slada, bayam dan kangkung, sedangkan tanaman buah-buahan semusim yang
bisa ditanam adalah semangka, timun dan melon. Mengingat masalah usahatani
tanaman hortikultura cukup banyak serta memerlukan modal dan tenaga yang besar,
maka pemilihan jenis tanaman yang akan diusahakan harus dilakukan secara sangat
selektif termasuk pertimbangan aspek pemasarannya. Tanaman hortikultura tahunan
yang banyak dikembangkan di lahan rawa pasang surut adalah Jeruk siam dan
pisang.
4.
Penerapan Teknologi Budidaya Yang Sesuai
Selain dari faktor pengelolaan air,
penataan lahan, pemilihan komoditas yang adaptif dan prospektif, penerapan
teknologi budidaya sesuai komodtias harus dilakukan dalam upaya untuk
mengoptialkan produktivitas lahan rawa. Teknologi budidaya dimaksud meliputi
penyiapan lahan, pemberian bahan amelioran, penggunaan varietas yang adaptif,
pemupukan, pengaturan tanam, pemberantasan hama penyakit dan lain-lain.
Penyiapan lahan adalah kegiatan
penebasan dan atau pembersihan rerumputan serta pengo lahan tanah, yang
ditujukan agar lahan menjadi rata dan lebih seragam serta memberikan media
tumbuh yang baik bagi perakaran tanaman. Pada lahan yang baru dilakukan
penataan dengan sistem surjan, untuk menyeragamkan tinggi genangan air dan
kesuburan tanah di bagian tabukan, perlu dilakukan perataan lahan bersamaan
dengan kegiatan pengolahan tanah. Dengan demikian, penanaman dapat dilakukan
lebih mudah dan hasilnya lebih baik.
Sebelum melakukan penanaman, tanaman
padi dan hortikultura umumnya terlebih dahulu disemaikan walaupun padi juga
dapat ditanam dengan cara tanam benih langsung, sedangkan tanaman palawija baik
jagung maupun jenis kacang-kacangan umumnya tanam langsung. Persemaian untuk
tanaman padi dapat dilakukan pada lahan kering yang tanahnya digemburkan atau lahan
basah dengan kondisi airnya macak-macak. Kepadatan benih 100-150 g/m2 dan
setelah umur 21 hari dapat ditanam dilahan sawah. Penyemaian untuk tanaman
hortikultura dilakukan secara kering di lahan yang letaknya agak tinggi, dan
kemudian setelah berumur 7 10 hari dipindah kedalam polibag kecil. Dan ditata
dengan teratur diatas rak atau ditempat teduh Penanaman dilakukan dengan cara
tanam pindah untuk padi sawah dan beberapa jenis sayuran atau tanam benih
langsung untuk palawija.
Sebelum melakukan penaman, mengingat
tanah di lahan dilahan rawa pasang surut pada umumnya memiliki keragaman tanah
yang tinggi dengan tingkat kesuburan tanahnya umumnya rendah dan pH 4 5 maka
diperlukan pemberian bahan ameliorasi dan pemupukan untuk meningkatkan hasil
tanamannya. Takaran bahan ameliorasi diperlukan umumnya 1.000 kg/ha untuk
bukaan baru dan 500 kg/ha untuk lahan yang sudah biasa ditanami dan pupuk yang
diperlukan sangat tergantung pada tingkat kesuburan tanah dan varietas yang
ditanam sehingga untuk pemberian pupuk yang tepat dan efisien sebaiknya
dilakukan uji tanah di setiap wilayah pengembangan
Gulma, hama dan penyakit merupakan
masalah dalam pengembangan usahatani tanaman di lahan rawa pasang surut. Gulma
atau rerumputan di lahan rawa pasang surut tumbuh subur dan berkembang cepat.
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan penyiangan (manual) atau dengan
aplikasi herbisida efektif, maupun kombinasi keduanya. Hama utama tanaman
khususnya padi adalah tikus dan penggerek batang padi putih serta ulat daun dan
buah untuk sayuran. Serangan hama tikus umumnya terjadi pada saat tanaman
memasuki fase bunting, sehingga upaya pengendalian dini sangat bermanfaat dalam
menurunkan populasi tikus. Pada dasarnya pengendalian hama dan penyakit
dilakukan secara terpadu menggunakan teknologi PHT melalui penggunaan varietas
tahan, musuh alami, penerapan teknik budidaya yang baik dan sanitasi lingkungan
sedangkan penggunaan pestisida kimiawi dilakukan sebagai tindakan terakhir.
Untuk menunjang keberhasilan pengendalian hama dan penyakit ini sangat
diperlukan partisipasi aktif petani dan dukungan aparat pemerintah serta sarana
dan prasarana penunjang yang memadai.
Penanganan panen dan pasca panen
merupakan faktor penting dalam mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan
mutu hasil baik padi, palawija maupun tanaman hortikultura. Penentuan saat
panen serta cara panen dan pengelolaan pasca panen yang tepat melalui
penggunaan alsintan ataupun manual perla dilakukan guna meningkatkan mutu hasil
yang baik. Untuk tanaman padi saat panen yang tepat adalah saat gabah padi
telah dalam fase masak fisiologis, yaitu hampir semua gabah matang. Panen
hendaknya dilakukan dengan sabit bergerigi. Perontokan hasil dilakukan dengan
mesin perontok (power thresher) atau digebot untuk padi, kedelai,
kacang tanah dan kacang hijau, sedangkan untuk jagung dengan mesin pemipil
jagung. Pengeringan hasil dilakukan secepatnya, baik dengan dijemur maupun
menggunakan mesin pengering (dryer) tergantung ketersediaannya.
Untuk menjaga kualitas hasil agar tetap baik dan tidak dimakan hama atau
terinfeksi jamur, hasil pertanian tersebut perlu disimpan pada tempat
penyimpanan yang baik.
BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Lahan rawa pasang surut merupakan
salah satu sumberday lahan yang walaupun tergolong lahan marginal namun
memiliki potensi cukup besar untuk pengembangan pertanian khususnya untuk
pengembangan tanaman pangan. Kemarginalan lahan rawa pasang surut dapat diatasi
dengan 4 kunci sukses pengelolaan, yaitu pengelolaan air, penataan lahan,
pemilihan komoditas yang adaptif dan prospektifi dan penerapan teknik budidaya
yang sesuai. Dengan penerapan 4 kunci sukses pengelolaan lahan tersebut, lahan
rawa pasang surut dapat dikelola dengan baik dan akan memberikan potensi yang
tidak kalan dengan lahan-lahaan subur lainnya yang selama ini banyak
dimanfaatkan untuk usaha pertanian serta kelestarian usaha tani dapat berjalan
dengan baik
Saran
perlunya perhatian yang lebih oleh pemerintah pada wilayah dengan karakter ini, agar pemanfaatan lahan yang cukup luas dapat lebih optimal. Pada seluruh petani agar terus menambah keahlian dalam melakukan pertanaman yang disarankan oleh pemerintah terkait.
perlunya perhatian yang lebih oleh pemerintah pada wilayah dengan karakter ini, agar pemanfaatan lahan yang cukup luas dapat lebih optimal. Pada seluruh petani agar terus menambah keahlian dalam melakukan pertanaman yang disarankan oleh pemerintah terkait.
DAFTAR
PUSTAKA
Sinta,Dodi.2012.Pemanfaatan
Lahan Pasang Surut.http://dodishinta.blogspot.co.id/2012
/11/pemanfaatan-lahan-pasang-surut-untuk.html
https://ejurnalpertaniansawit.wordpress.com/2013/01/25/lahan-pasang-surut/
http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=61:penerapan-pengelolaan-tanaman-terpadu-lahan-rawa-pasang-surut-di-kalimantan-timur&catid=39:story&Itemid=44
http://balittra.litbang.pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1210&Itemid=5
info yang sangat bagus kak thanks
ReplyDeleteEMI